Kamis, 31 Desember 2020

BAURAN PEMASARAN HARGA (PRICE)

 .    Konsep penetapan harga

Penetapan harga atau pricing, seperti istilah yang digunakan dalam ekonomi dan keuangan, adalah tindakan untuk menetapkan nilai suatu produk atau layanan. Dengan kata lain, pricing terjadi ketika bisnis memutuskan berapa banyak pelanggan harus membayar untuk suatu produk atau layanan. Penetapan harga adalah proses menetapkan nilai yang akan diterima produsen dalam pertukaran jasa dan barang. Metode pricing dilakukan untuk menyesuaikan biaya yang ditawarkan produsen yang sesuai dengan produsen dan pelanggan. Pricing bergantung pada harga rata-rata perusahaan, dan nilai yang dirasakan pembeli dari suatu barang, dibandingkan dengan nilai yang dipersepsikan dari produk pesaing.

B.    Tujuan penetapan harga

Tujuan Penetapan Harga yaitu memperoleh keuntunganyang optimal, membuat perusahaan tetap bertahan, mencapai ROI (Rate of Return), menguasai pangsa pasar dan mempertahankan status Quo (Abadi, 2016). Adapun tujuan penetapan harga, yaitu:

·         Bertahan

Tujuan penetapan harga bagi perusahaan mana pun adalah untuk menetapkan harga yang masuk akal bagi konsumen dan juga agar produsen dapat bertahan di pasar. Setiap perusahaan berada dalam bahaya tersisih dari pasar karena persaingan yang ketat, perubahan preferensi dan selera pelanggan. Oleh karena itu, saat menentukan biaya produk, semua variabel dan biaya tetap harus dipertimbangkan. Setelah fase bertahan hidup selesai, perusahaan dapat mengupayakan keuntungan ekstra.

·         Meningkatkan laba saat ini

Sebagian besar perusahaan mencoba memperbesar margin laba dengan mengevaluasi permintaan dan penawaran jasa dan barang di pasar. Jadi harga ditetapkan sesuai dengan permintaan produk dan pengganti produk tersebut. Jika permintaan tinggi, harga juga akan tinggi.

·         Penguasaan pasar

Perusahaan memberlakukan angka rendah untuk barang dan jasa untuk mendapatkan ukuran pasar yang besar. Teknik ini membantu meningkatkan penjualan dengan meningkatkan permintaan dan menurunkan biaya produksi.

·         Pasar untuk ide inovatif

Di sini, perusahaan menetapkan harga tinggi untuk produk dan layanan mereka yang sangat inovatif dan menggunakan teknologi mutakhir. Harganya tinggi karena biaya produksi yang tinggi. Ponsel, gadget elektronik adalah beberapa contohnya.

C.   Faktor-faktor yang mempengaruhi penetapan harga

1.    PRODUCT LIFE CYCLE

Tahap Perkenalan (introduction) ; Ini tahapan pertama produk baru, sehingga belum ada target konsumen, dan produk belum dikenal sehingga diperlukan penetapan harga produk secara khusus untuk membuat produk diterima dan dikenal konsumen.

Tahap Pertumbuhan  (growth) ; Pada tahap pertumbuhan, produk mulai dikenal konsumen, terjadi peningkatan volume penjualan dan laba juga akan meningkat pesat dan biasanya dibarengi dengan promosi yang kuat, dan permintaan pasar akan meningkat juga, sehingga harga yang telah ditetapkan juga harus ditingkatkan.

Tahap Kedewasaan (maturity) ; Ini adalah saat produk berada pada titik jenuh, hal ini ditandai dengan tidak bertambahnya konsumen yang ada sehingga angka penjualan tetap di titik tertentu dan jumlah keuntungan yang mulai menurun.

Tahap Penurunan (decline) ; Pada kondisi decline, penjualan produk mulai turun, karena konsumen mulai beralih ke produk subtitusi, sehingga jumlah keuntungan yang diperoleh produsen dan pedagang akan menurun drastis atau perlahan turun.

2.    PENAWARAN dan PERMINTAAN

Secara konsep, permintaan adalah sejumlah barang yang dibeli pada tingkat harga tertentu, di mana  umumnya tingkat harga yang lebih rendah akan mengakibatkan jumlah permintaan akan lebih besar. Sedangkan penawaran adalah suatu jumlah yang ditawarkan oleh penjual pada suatu tingkat harga tertentu, dimana umumnya harga yang lebih tinggi akan mendorong jumlah yang penawaran lebih besar. Harga yang terjadi adalah harga pada titik pertemuan antara harga permintaan dan harga penawaran. Karena hukum permintaan dan penawaran saling bertolak belakang, maka harga yang terbentuk adalah berdasarkan hasil permintaan dan penawaran tersebut, dimana konsumen dan penjual sama-sama mendapat keuntungan.

3.    ELASTISITAS PERMINTAAN

Faktor lain yang dapat mempengaruhi penentuan penetapan harga produk adalah sifat permintaan pasar, di mana sebenarnya sifat permintaan pasar ini tidak hanya mempengaruhi penentuan penetapan harga produk / penetapan harga jual saja, tetapi juga mempengaruhi volume penjualan barangnya.

4.    PERSAINGAN PASAR

Harga jual beberapa barang seringkali dipengaruhi oleh persaingan yang ada di pasar, di mana sering sekali seorang penjual menurunkan atau menaikkan harga jual produknya, saat mengetahui kompetitor menaikkan atau menurunkan harga jual produknya. Situasi persaingan yang ada di pasaran akan mempersulit penjual perseorangan untuk menjual dengan harga lebih tinggi kepada pembeli yang lain.

5.    BIAYA PRODUKSI Dan PEMASARAN

Biaya produksi adalah akumulasi dari semua biaya-biaya yang dibutuhkan dalam proses produksi dengan tujuan untuk menghasilkan suatu produk atau barang. Biaya-biaya ini meliputi biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, biaya operasional barang / pabrik, dan lain sebagainya, yang secara cermat dihitung dan salah satunya digunakan untuk membuat penetapan harga produk, dimana pada posisi ini akan muncul harga pokok produksi. Sedangkan biaya pemasaran secara singkat adalah biaya yang dibutuhkan untuk membuat produk sampai di konsumen.

D.   Metode penetapan harga

Metode pricing merupakan teknik yang diterapkan perusahaan untuk mengevaluasi harga pokok produknya. Proses ini merupakan tantangan yang paling menantang yang dihadapi oleh perusahaan, karena harga harus sesuai dengan struktur pasar saat ini dan juga melengkapi pengeluaran perusahaan dan mendapatkan keuntungan. Metode penetapan harga dibagi menjadi dua bagian:

1.    Metode Penetapan Harga Berorientasi Biaya

Ini adalah dasar untuk mengevaluasi harga barang jadi, dan sebagian besar perusahaan menerapkan metode ini untuk menghitung harga pokok produk. Cara ini dibagi lagi menjadi cara-cara berikut:

·         Cost-Plus Pricing 

Dalam penetapan harga ini, pabrikan menghitung biaya produksi yang dipertahankan dan memasukkan persentase tetap (juga dikenal sebagai mark up) untuk mendapatkan harga jual. Peningkatan keuntungan dievaluasi pada biaya total (biaya tetap dan variabel).

·         Markup Pricing

Di sini, jumlah tetap atau persentase dari total biaya suatu produk ditambahkan ke harga akhir produk untuk mendapatkan harga jual suatu produk.

·         Target-Returning Pricing

Perusahaan atau firma menetapkan biaya produk untuk mencapai Tingkat Pengembalian Investasi.

2.    Metode Penetapan Harga Berorientasi Pasar

Di bawah kategori ini, ditentukan berdasarkan riset pasar:

·         Perceived-Value Pricing 

Dalam metode ini, produsen menetapkan biaya dengan mempertimbangkan pendekatan pelanggan terhadap barang dan jasa, termasuk elemen lain seperti kualitas produk, iklan, promosi, distribusi, dll. Yang memengaruhi sudut pandang pelanggan.

·         Value pricing 

Di sini, perusahaan menghasilkan produk yang berkualitas tinggi tetapi harga rendah.

·         Going-Rate Pricing 

Dalam metode ini, perusahaan meninjau tarif pesaing sebagai dasar dalam menentukan tarif produk mereka. Biasanya cost produknya kurang lebih sama dengan kompetitor.

·         Auction Type Pricing 

Dengan lebih banyak penggunaan internet, metode penetapan harga kontemporer ini berkembang dari hari ke hari. Banyak platform online seperti OLX, Quickr, eBay, dll. Menggunakan situs online untuk membeli dan menjual produk ke pelanggan

·         Differential Pricing 

Metode ini diterapkan ketika harga harus berbeda untuk kelompok atau pelanggan yang berbeda. Di sini, harga mungkin berbeda menurut wilayah, area, produk, waktu, dll.

E.    Memonitor pergerakan harga, produk dan kebijakan distribusi untuk kebutuhan perusahaan

Dalam analisis pergerakan harga menggunakan analisis fundamental dan analisis teknikal. Analisis fundamental adalah sebuah analisis yang dilakukan untuk melihat bagaimana kondisi fundamental sebuah perusahaan saat ini sehingga bisa diprediksi kecenderungan trend di masa mendatang.  Analisis analisis teknikal tidak melihat kepada kondisi fundamental tetapi lebih melihat trend pergerakan harga saham di masa lalu untuk dibuatkan sebuah prediksi di masa mendatang. Dengan analisis teknikal tidak perlu membaca laporan keuangan hanya perlu membaca sebuah grafik.

      Perusahaan atau pebisnis selalu teliti dalam memantau pergerakan produk. Istilah yang sering kali disebutkan untuk kegiatan tersebut adalah product life cycleProduct life cycle adalah proses suatu produk mulai dari peluncuran sampai penarikan kembali dari pasar. Secara umum, konsep ini digunakan oleh perusahaan untuk mengetahui kapan waktu yang tepat untuk meningkatkan iklan, menurunkan harga, memperluas jangkauan pasar, hingga melakukan desain ulang pada kemasan produk. Dalam kehidupan sehari-hari, pasti kamu sering menemui produk lama yang dikeluarkan oleh perusahaan dari pasar dan digantikan oleh produk baru yang terlihat lebih sukses. Fenomena tersebut memperlihatkan bagaimana product life cycle memiliki peran penting bagi perusahaan dalam menjalankan bisnis jangka panjang. Kebijkan saluran distribusi ada bermacam-macam yaitu sebagai berikut :

·           Penyaluran Langsung yaitu bentuk saluran yang paling pendek dan sederhana dimana produsen langsung menjual barangnya langsung kepada konsumen tanpa perantara.

·           Penyaluran Semi Langsung yaitu produsen hanya menggunakan satu mata rantai saluran saja yaitu pengencer.

·           Penyaluran Tidak Langsung yaitu banyak menyalurkan saluran tradisional, dimana produsen hanya melayani penjual dalam jumlah besar dimana pembelian oleh konsumen dilayani oleh pengencer.

Saluran distribusi dalam kehidupan suatu perusahaan sangatlah penting artinya, terutama dalam kegiatan perusahaan untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan. Banyak perusahaan tidak dapat mencapai sasaran penjualannya karena kesalahan dalam memilih saluran distribusi, di mana menyebabkan penyampaian barang/jasa hasil produk kepada konsumen mengalami berbagai hambatan.

studi kasus:

PENGARUH BAURAN PEMASARAN HARGA TERHADAP KEPUASAN DAN DAMPAKNYA TERHADAP LOYALITAS PELANGGAN (Studi Kasus PT. Sinarmentari Indoprima Cabang Kota Bandung)

Kuesioner dalam penelitian ini disebarkan kepada 100 (seratus) responden yang merupakan pelanggan dari PT. Sinarmentari Indoprima Cabang Kota Bandung. Data yang telah terkumpul kemudian dianalisis menggunakan regresi linier berganda dan analisis path yang sebelumnya telah dilakukan uji asumsi klasik terlebih dahulu. 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bauran Pemasaran Harga, Kepuasan Pelanggan dan Loyalitas Pelanggan pada PT. Sinarmentari Indoprima Cabang Kota Bandung adalah baik. Kemudian, Bauran Pemasaran Harga berpengaruh terhadap Kepuasan Pelanggan, Bauran Pemasaran Harga berpengaruh terhadap Loyalitas Pelanggan dan Kepuasan Pelanggan berpengaruh terhadap Loyalitas Pelanggan pada PT. Sinarmentari Indoprima Cabang Kota Bandung. Akan tetapi, Bauran Pemasaran Harga tidak memberikan dampak pada Loyalitas Pelayanan melalui Kepuasan Pelanggan pada PT. Sinarmentari Indoprima cabang Kota Bandung.

1. Bauran pemasaran harga pada PT. Sinarmentari Indoprima cabang Kota Bandung baik. 

2. Kepuasan pelanggan pada PT. Sinarmentari Indoprima cabang Kota Bandung baik.

3. Loyalitas Pelanggan PT. Sinarmentari Indoprima sakcabang Kota Bandung baik dimata Pelanggan dinilai baik. 

4. Terdapat pengaruh antara bauran pemasaran harga terhadap kepuasan pelanggan pada PT. Sinarmentari Indoprima cabang Kota Bandung. 

5. Terdapat pengaruh bauran pemasaran harga terhadap loyalitas pelanggan pada PT. Sinarmentari Indoprima cabang Kota Bandung. 

6. Terdapat pengaruh kepuasan pelanggan terhadap loyalitas pelanggan pada PT. Sinarmentari Indoprima cabang Kota Bandung. 

7. Bauran pemasaran harga tidak memberikan dampak pada loyalitas pelayanan melalui kepuasan pelanggan pada PT. Sinarmentari Indoprima cabang Kota Bandung.


referensi :

sakti, anggono raras tirto. linda maria.2016.PENGARUH BAURAN PEMASARAN HARGA TERHADAP KEPUASAN DAN DAMPAKNYA TERHADAP LOYALITAS PELANGGAN (Studi Kasus PT. Sinarmentari Indoprima Cabang Kota Bandung). indonesia membangun. 2(1)

Jumat, 25 Desember 2020

BAURAN LOKASI DAN SALURAN DISTRIBUSI

 KONSEP LOKASI DALAM BAURAN PEMASARAN

alah satu elemen Tempat (place) yang masuk dalam 7P Marketing mix bukan hanya diartikan sebagai tempat dimana usaha dijalankan, namun lebih luas lagi dimana “place” tersebut merupakan segala kegiatan penyaluran produk berupa barang ataupun jasa dari produsen ke konsumen (distribusi).

Menurut Philip Kotler distribusi adalah : “The various the company undertakes to make the product accessible and available to target customer”. Berbagai kegiatan yang dilakukan perusahaan untuk membuat produknya mudah diperoleh dan tersedia untuk konsumen sasaran. Sedangkan Boom dan Bitner (dalam Dias & Shah, 2009:318), mereka menyebutkan bahwa lokasi pemasaran, terdapat beberapa pemain yang terlibat di dalamnya, yaitu marketing intermediarychannel of distribution, agen atau brokerwholesaler dan retailer, serta logistik dan transportasi.

JIka mengacu dari kedua pendapat diatas, fungsi distribusi disini tak lain adalah untuk memastikan ketersediaan barang dan jasa yang dibutuhkan konsumen pada waktu dan tempat yang tepat. Berbagai saluran distribusi ini merupakan sebuah perangkat yang saling terkait satu sama lainnya dalam proses penyediaan produk/pelayanan untuk digunakan atau dikonsumsi.

Dalam saluran distribusi, semakin banyak perangkat yang digunakan biasanya akan mampu menjangkau populasi yang lebih luas. Semakin mudah produk didapatkan berarti proses distribusi semakin baik, dan penjualan produk berpeluang besar untuk meningkat. Untuk itulah saluran distribusi penting direncanakan dengan matang oleh pemasar.

Pemilihan saluran distribusi

Pemilihan saluran distribusi secara tepat memang harus dilakukan sejak dalam rencana, untuk mendapatkan hasil yang akurat biasanya para pemasar akan melakukan survey ataupun riset terlebih dahulu. Beberapa bahan pertimbangan yang bisa dijadikan acuan untuk pemilihan saluran disitribusi ini misalnya sifat pembeli, sifat produk, sifat perantara, sifat pesaing dan lain sebagainya.

Sifat pembeli merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi keputusan produsen dalam memilih saluran distribusi yang dipakai. Sifat-sifat tersebut bisa berupa perilaku para konsumen dalam mendapatkan produk, bagaimana kebiasaan belanjanya, frekuensi pembelian, letak geografisnya, dan lain-lain. Dari sifat pembeli yang berbeda tentu perusahaan akan mementukan saluran distribusi yang berbeda.

Sifat produk yang didistribusikan juga menjadi salah satu faktor penentu dalam memilih saluran distribusi. Jika barang mudah rusak tentu akan menggunakan sarana distribusi yang berbeda dengan barang yang kuat. Barang-barang yang masa kadaluwarsanya singkat (misal produk makanan) tentu akan berbeda cara menangani distribusinya. Sifat produk lainnya misalkan terkait dengan ukuran, harga, dan sebagainya.

Tak hanya sifat pembeli dan produk, sifat perantara-pun juga bisa menjadi bahan pertimbangan untuk pemilihan saluran distribusi, karena biasanya para perantara juga berfungsi sebagai pemasar, melakukan penyimpanan, pengangkutan, penjualan, pembelian dan sebagainya. Dalam kasus tertentu biasanya produsen justru melibatkan perantara kedalam saluran distribusi yang dipilihnya.

Cara distribusi yang dilakukan kompetitor juga bisa dijadikan pertimbangan oleh perusahaan dalam melakukan distribusi produknya. Hal ini terkait dengan kompetisi produk agar lebih cepat dan tepat sasaran ddibanding dengan pesaing yang ada. Jika produk yang akan dipasarkan adalah produk baru, maka harus dapat memunculkan strategi-strategi khusus agar dapat menrik perhatian cari calon konsumen.

Menentukan saluran distribusi produk sejak awal memang sangat penting. Dengan memperhatikan berbagai sifat dan karakteristik konsumen, produk, perantara, lingkungan dan yang lainnya, tentu akan bisa mendapatkan saluran distribusi yang tepat dan efektif.

Pengertian Saluran Distribusi atau Place Mix

Saluran Pemasaran atau Saluran Distribusi terdiri dari seperangkat lembaga yang melakukan semua kegiatan ( Fungsi ) yang digunakan untuk menyalurkan produk dan setatus kepemilikannya dari produsen ke konsumen.
Pengertian diatas mengandung 3 unsur yaitu :
a.       Adanya kelompok lembaga pemasaran.
b.      Adanya kegiatan atau fungsi-fungsi yang dilaksanakan oleh lembaga tersebut.
c.       Adanya arah pergerakan produk serta kepemilikannya dari lingkungan produksi ke lingkungan konsumsi.
Definisi menurut Philip Kotler mengenai distribusi adalah : “The various the company undertakes to make the product accessible and available to target customer”. Berbagai kegiatan yang dilakukan perusahaan untuk membuat produknya mudah diperoleh dan tersedia untuk konsumen sasaran. Sebagai salah satu variabel marketing mix, place / distribusi mempunyai peranan yang sangat penting dalam membantu perusahaan memastikan produknya, karena tujuan dari distribusi adalah menyediakan barang dan jasa yang dibutuhkan dan diinginkan oleh konsumen pada waktu dan tempat yang tepat.
Saluran distribusi adalah saluran yang dipakai produsen untuk menyalurkan barang hasil produksinya kepada konsumen, baik sampai berpindahnya hak (penguasaan) sampai dengan pemindahan barang maupun hanya pemindahan hak kepemilikannya saja

Pemilihan saluran distribusi harus mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut :
a. Sifat pembeli, seperti kebiasaan membeli, frekuensi pembelian, letak geografis dsb.
b. Sifat produk.
c. Sifat perantara.
d. Sifat pesaing
e. Sifat perusahaan, dan sebagainya
Sifat pembeli sangat mempengaruhi keputusan produsen dalam memilih saluran distribusi yang dipakai. sebagai contohnya, kalau jumlah pembeli hanya, frekuensi pembelian dalam jumlah yang kecil-kecil maka akan membuat produsen cenderung memilih saluran distribusi yang panjang.
Demikian juga sifat produk juga merupakan pertimbangan produsen yang tidak kalah pentingnya. Misalnya, apakah barang tersebut mudah rusak atau tidak, bagaimana ukurannya, bagaimana kualitas barang kalau dilihat dari segi konsumen, harganya dan sebagainya. Kesemuanya itu perlu dijadikan bahan pertimbangan yang penting juga.
Demikian juga masalah sifat perantara, perusahaan, pesaing, pasar yang dituju dan sebagainya menjadi faktor yang penting dalam memilih saluran distribusi yang akan digunakan perusahaan. Saluran distribusi yang digunakan itu dengan tujuan agar barang yang ditawarkan sampai pada konsumen industry maupun konsumen akhir.

  Fungsi saluran Distribusi

a.       Penelitian ( research ), yaitu pengumpulan informasi penting untuk perencanaan dan melancarkan pertukaran.
b.      Promosi, yaitu pengembangan dan penyebaran komunikasi yang persuasive mengenai penawaran.
c.       Kontak, yaitu mencari dan menjalin hubungan dengan calon pembeli.
d.      Penyesuaian, yaitu mempertemukan penawaran sesuai permintaan pembeli, termasuk kegiatan seperti pengolahan, penilaian, perakitan dan pengemasan.

Alternatif Pemilihan Saluran Distribusi
Untuk memakai saluran distribusi tertentu di samping mempertimbangkan faktor-faktor di atas perusahaan juga perlu mengetahui unsure apa saja yang sebenarnya juga mempengaruhi pemilihan saluran distribusi, diantaranya:
A.      Tipe perantara
Perantara dalam kenyataannya juga melakukan beberapa macam fungsi pemasaran seperti penyimpanan, pengangkutan, penjualan, pembelian dan sebagainya. Kalau fungsi pemasaran yang dilakukan perantara ternyata lebih efisien disbanding dengan kalau fungsi pemasaran dilakukan oleh produsen maka produsen yang bersangkutan biasanya memasukan perantara kedalam saluran distribusi yang dipilihnya. Pada dasarnya ada 3 jenis perantara yaitu :
1.      Pedagang (Wholesaler) adalah perantara yang secara nyata mempunyai barang dagangan dan melakukan fungsi pemasaran di mana barang yang di dagangkan dalam jumlah volume penjualan yang besar sehingga pedagang besar ini biasanya hanya melayani pembelian dalam jumlah yang banyak atau dengan kata lain tidak melayani kosumen akhir yang membeli untuk memenuhi kebutuhan pribadinnya (atau besifat non-bisnis).
2.      Pengecer (retailer) adalah perantara yang berhubungan langsung dengan konsumen akhir baik konsumen untuk keperluan pribadi maupun konsumen industri.
3.      Agen, Agen merupakan perantara yang ketiga, agen mempunyai perbedaan baik dengan pedagang besar mupun pengecer. Hal ini diperlihatkan pada masalah hak kepemilikan barang yang dijualnya. Kalau pedagang besar dan pengecer memiliki hak milik pada barang yang dijual maka kalau pada agen sebaliknya. Biarpun sebagai agen mereka bisa menjual dalam partai besar tetapi tetap hak miliknya ada pada produsennya.
B.       Jumlah Saluran
Kalau ditinjau dari jumlah perantara, ini menyangkut untuk tingkat penyebaran pasar yang diinginkan oleh produsen. Dengan mempertimbangkan jumlah perantara/penyalur maka produsen mempunyai 3 jenis kebijaksanaan alternative pemakaian saluran distribusi, yaitu:


1.      Distribusi Insentif
Kebijaksanaan yang dipakai perusahaan dengan jalan memakai sebanyak mungkin penyalur atau pengecer untuk mencapai dengan cepat kebutuhan konsumen dapat terpenuhi dengan segera. Biasanya kebijaksanaan ini dilakukan kalau produsen menjual barang-barang konsumsi sejenis, konvinen atau kebutuhan pokok sehari-hari.
2.   Distribusi selektif.
Distribusi yang dipilih produsen dengan hanya memakai beberapa perantara saja, untuk memudahkan pengawasan terhadap penyalur. Distribusi ini dipakai untuk memasarkan barang-barang baru, barang spesial maupun barang industri jenis peralatan ekstra. Sehingga dalam pemakaian saluran distribusi ini produsen berusaha memilih berapa penyalur yang benar-benar baik dan mampu melaksanakan fungsi pemasaran.
3.   Distribusi eksklusif.
Distribusi yang dipilih produsen dengan hanya memilih satu perantara saja dalam wilayah geografis tertentu. Hal ini digunakan untuk pengawasan yang lebih intensif dan mendorong semangat penyalur agar agresif dalam melaksanakan fungsi pemasarannya. Distribusi ini dipakai produsen penghasil barang-barang yang relatif mahal/berat. Karena pemasaran bukanlah ilmu pasti seperti keuangan (finance), teori Marketing mix juga terus berkembang. Dalam perkembangannya, dikenal juga istilah 7P dimana 3P yang selanjutnya adalah People (Orang), Physical Evidence (Bukti Fisik), Process (Proses). Penulis buku Seth Godin, misalnya, juga menawarkan teori P baru yaitu Purple Cow.[1]
Perencanaan saluran distribusi dilakukan dengan maksud untuk memperlancar penyaluran produk agar sampai kepada konsumen. Dengan kegiatan distribusi ini diharapkan dapat mempermudah konsumen untuk memperoleh produk setiap saat. Kecepatan dan ketepatan dari saluran distribusi yang dilakukan oleh perusahaan akan sangat membantu konsumen dalam mendapatkan produk perusahaan, hal ini agar dapat menaikkan citra keberadaan produk dan perusahaan itu sendiri.


Kamis, 17 Desember 2020

BAURAN PEMASARAN PRODUK

 

Pengertian Bauran Pemasaran

Menurut pandangan Kotler dan Armstrong, bauran pemasaran adalah beberapa variabel dalam marketing, yang digunakan oleh perusahaan untuk mengejar target penjualan yang diinginkan.

Sementara menurut Laura Lake, bauran pemasaran adalah beberapa komponen dalam marketing yang digunakan oleh sebuah bisnis untuk menjual produk atau jasa kepada konsumen

Pandangan lain datang dari Gugup Kismono yang menyatakan bahwa bauran pemasaran adalah kombinasi dari variabel atau kegiatan yang merupakan inti dari pemasaran yang terdiri dari strategi produk (product), harga (price), promosi (promotion), dan tempat (place).

Dari ketiga pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa bauran pemasaran adalah aktivitas dan variabel marketing yang menentukan kesuksesan penjualan produk atau jasa dari sebuah bisnis. Pada tahun 1960-an Jerome McCarthy baru memperkenalkan konsep bauran pemasaran yang dikenal dengan strategi 4P atau Product (produk), Price (harga), Promotion (promosi) dan Place (tempat).

Bauran produk merupakan salah satu bauran pemasaran dari factor produk yang dapat dikendalikan untuk menghasilkan respon yang diinginkan pasar sasaran dalam rangka mempengaruhi permintaan konsumen terhadap barang dan jasa.

Produk merupakan sesuatu yang ditawarkan ke pasar baik produk nyata maupun produk tidak nyata (jasa) sehingga dapat memuaskan keinginan dan kebutuhan pasar. Terdapat dua macam produk (product/good), yaitu:

A.      Consumer’s Goods, yaitu barang digunakan secara langsung oleh konsumen dan tidak untuk dijual Kembali.

1.   Convenience Goods (kemudahaan dalam memperoleh barang)

Barang-barang yang dapat dibeli/dikonsumsi oleh keonsumen dimana dalam memperoleh barang tersebut konsumen tidak perlu mengeluarkan upaya yang sulit, karena barang-barang tersebut biasanya berada disekeliling konsumen seperti, beras, gula, odol, minyak gorang, dan lain-lain.

2.  Shopping Goods

Barang-barang yang dibutuhkan konsumen dimana dalam memperoleh barang tersebut konsumen perlu mengadakan penelitian terlebih dahulu atau perbandingan dari satu toko ke toko yang lain, dimana yang diperbandingkan adalah kualitas, jenis, design, dan harga. Shopping goods dapat dibandingkan menjadi 3 macam:

a.    Fashion goods, seperti pakaian, sepatu, assesories

b.    Service goods, seperti alat-alat rumah tangga

c.    Bulk goods, yaitu barang yang dibeli dalam jumlah yang besar seperti, pasir, batu bata, dan lain-lain

d.    Speciality goods, yaitu barang-barang yang dibeli konsumen dimana saat pembelian para konsumen memerlukan upaya yang khusus. Contonya mobil, computer, dan lain-lain.

B.      Industrial Goods, yaitu barang yang dibeli untuk diperdagangkan lebih lanjut atau barang yang akan dipakai dalam proses pengolahan lebih lanjut.

1.   Raw materials atau bahan-bahan mentah seperti, besi, kayu, kapas, dan lain-lain.

2.  Fabricating materials atau bahan kebutuhan pabrik seperti, tekstil.

3.  Operating supplies atau bahan kebutuhan operasi seperti, oli, bensin, solar.

4.  Instalasi atau peralatan yang vital sperti, mesin penggiling, mesin tenun.

5.  Accessory equipment atau peralatan tambahan seperti trailer, alat-alat pengangkut barang.

Terdapat beberapa macam perlakuan terhadap produk guna meningkatkan permintaan produk, yaitu:

  1. Packing, merupakan pengemasan barang dengan tujuan melindungi barang dari kerusakan. Packaging bertujuan untuk membuat kemasan yang menarik supaya konsumen tertarik untuk membeli.
  2. Branding, merupakan nama atau symbol yang digunakan pada suatu produk supaya produsen dapat memperkenalkan produknya dan membedakan dengan produk yang lain.
  3. Labelling, merupakan informasi yang dibubuhkan pada produk yang menunjukkan tentang isi, miliki, dan sumber.
  4. Warranty/Garansi, merupakan suatu jaminan dari produsen bila barang-barang yang terbeli tidak sesuai dengan pesanan. Hal tersebut bertujuan untuk memberikan suatu kepastian yang lebih meyakinkan konsumen.
  5. Service, merupakan suatu aktivitas yang ditawarkan pada konsumen dan tidak menghasilkan suatu kepemilikan.

Strategi pemasaran terhadap produk, antara lain:

1.  Lini produk (product line) merupakan kelompok produk yang berhubungan dengan erat karena fungsinya serupa, dijual kepada kelompok pelanggan yang sama dipasarkan lewat jenis toko yang sama atau masuk dalam kisaran harga yang sudah ada.

2.  Product development merupakan suatu usaha yang direncanakan dilakukan dengan sadar untuk memperbaiki produk yang ada atau untuk menambah banyaknya ragam produk yang dihasilkan dan dipasarkan. Partisipasi dalam perencanaan produk, ide-ide dapat muncul dari konsumen, distributor, industrial buyer, investor, pabrikan. Bentuk-bentuk dari product development, yaitu:

a.  Initial development, yaitu perusahaan yang sengaja memulai mendesign suatu produk memiliki sifat atau karakteristik tertentu dan mampu memberikan kegunaan tertentu.

b.  Product improvement, yaitu suatu perencanaan yang menekankan pada produk atau perubahan isi dengan tujuan agar mempunyai sifat baru.

c.   New uses and applications, yaitu suatu perencanaan produk yang menekan pada kegunaan dan pengaplikasian yang baru.

3.    Product difersivication merupakan suatu perluasan pemilihan barang dan jasa yang dijual oleh perusahaan, dengan jalan menambah produk baru ataupun memperbaiki tipe, warna, mode, ukuran, jenis dari produk yang sudah ada dalam rangaka memperoleh laba maksimal. Terdapat dua jenis product difersivication, yaitu:

a.  Divisi praktis, yaitu peningkatan jumlah, warna, model, ukuran, jenis.

b.  Divisi strategi (luas), yaitu produk yang sama sekali beda.

4. Product Life Cycle merupakan daur hidup produk yang menggambarkan riwayat suatu produk sejak diperkenalkan ke pasar sampai ditarik dari pasar. Terdapat empat tahapan produk, yaitu:

a.  Tahap pengembangan produk

b.  Tahap pengenalan produk

c.   Tahap pertumbuhan produk atau tahap kedewasaan produk

d.  Tahap penurunan produk

Jasa merupakan suatu kegiatan atau aktivitas yang ditawarkan oleh suatu pihak ke pihak yang lain dan secara prinsip tidak berwujud dan tidak menyebabkan perpindahan kepemilikan. Terdapat lima macam jasa, yaitu:

1.    Personalized service, merupakan jasa yang bersifat personal dan tidak dapat dipisahakan dari orang yang menghasilkan jasa tersebut. Pelayanan jasa tersebut haruslah dilayani langsung oleh produsennya.

2.    Financial service, merupakan pelayanan di bidang keuangan seperti banking service, insurance service, investment securities.

3.    Public utility and transportation services, merupakan pelayanan untuk kebutuhan public. Perusahaan public utility memiliki pasar monopoli sperti perusahaan listrik, pertamina, dan sebagainya. Sedangkan dalam transportation services meliputi angkuta umum seperti, kereta api, pesawat, dan sebagainya.

4.    Entertainment, meliputi usaha di bidang olahraga, bioskop, dan usaha hiburan lainnya.

5.    Hotel services, merupakan salah satu sarana dalam bidang pelayanan kepariwisataan, sehingga perlu mengadakan kegiatan bersama tempat-tempat rekreasi, hiburan, travel biro, guna menjadi daya tarik daerah yang bersangkutan.

Penawaran ke pasar biasanya mencakup beberapa jenis jasa. Komponen jasa dapat merupakan bagian kecil maupun utam dari total penawaran. Tawaran tersebut dibedakan menjadi lima kategori, yaitu:

1.    Barang berwujud penuh, yaitu penawaran yang hanya terdiri dari barang berwujud dan tidak ada jasa yang menyertai produk tersebut.

2.    Barang berwujud yang disertai layanan, yaitu penawaran yang terdiri dari barang berwujud disertai dengan satu atau beberapa jasa untuk meningkatkan daya tarik konsumen seperti, perusahaan dealer mobil yang tidak hanya menjual produknya saja tetapi juga disertai jasa pendukung muali dari awal, proses, dan sesudah produk terjual.

3.    Campuran yaitu barang jasa yang ditawarkan dengan proporsi yang sama seperti restoran yang menyediakan makanan dan pelayanan.

4.    Jasa utama yang disertai barang seperti, jasa transportasi yang juga tersedia makanan.

5.    Jasa murni seperti, jasa pelayanan kesehatan, psikoterasi, konsultasi, menjaga bayi, dan lainnya.

Jasa memiliki karakteristik sebagai berikut:

1.    Tidak berwujud, jasa tidak dapat dilihat, didengar, dirasa, atau diraba sebelum jasa tersebut dibeli, sehingga untuk mengurangi ketidakpastian tersebut pembeli akan mencarai tanda sebagai bukti dari kualitas jasa. Kualitas jasa tersebut didapat dari temapat, orang lain, peralatan, alat komunikasi, symbol, dan harga yang pembeli lihat.

2.    Tidak terpisahakan, dimana umumnya jasa dihasilkan dan dikonsumsikan secara bersamaan tidak seperti barang fisik yang diproduksi, disimpan dalam persediaan, didistribusikan lewat berbaga cara dan kemudian baru dikonsumsi.

3.    Tidak dapat diwakili dan bervariasi, meskipun jasa yang dijual sama namun berbeda yang menyediakan jasa tersebut, hasil atau kepuasan yang diperoleh konsumen tentu berbeda.

4.    Mudah lenyap dan tidak tahan lama.

Starategi pemasaran jasa, antara lain:

1.    Strategi mengatasi masalah yang ditimbulkan oleh karakteristik tidak berwujud, yaitu:

a.    Menekankan petunjuk-petunjuk yang tampak seperti tempat (desain interior dan eksterior), sumber daya manusia (responsive, ramah, berpakaian rapi), peralatan (computer, meja, kursi), bahan-bahan komunikasi (brosur, pamphlet, leaflet), symbol perusahaan dan harga.

b.    Menggunakan sumber daya manusia lebih banyak dari pada sumber daya mnusia untuk pemasaran produk.

c.    Mendorong komunikasi mulut ke mulut untuk dapat menarik pelanggan baru bagi perusahaan.

d.    Menciptakan citra organisasi yang kuat.

e.    Memanfaatkan akuntansi biaya dan manajemen biaya dalam penetapan harga supaya dapat menetapkan harga sebaik mungkin.

f.     Melakukan komunikasi perna beli untuk mengumpulkan informasi terkait kepuasan dan keluhan pelanggan.

2.    Strategi mengatasi masalah yang ditimbulkan oleh karakteristik tidak terpisahkan, yaitu:

a.    Melakukan seleksi dan pelatihan secara cermat terhadap public contact personel.

b.    Menggunakan berbagai macam lokasi jasa.

3.    Strategi mengatasi masalah yang ditimbulkan oleh karakteristik  bervariasi, yaitu:

a.    Menambah dan memanfaatkan peralatan canggih serta melakukan standardisasi produksi.

b.    Melakukan service customization, artinya meningkatkan intensitas interaksi antara perusahaan dan pelanggan.

4.    Strategi mengatasi masalah yang ditimbulkan oleh karakteristik tidak tahan lama, yaitu:

a.    Menggunakan berbgai pendekatan untuk mengatasi permintaan yang berfluktuasi (manajemen permintaan), seperti:

1.    Tidak melakukan apapun dengan membiarkan informasi frekuensi dan volume permintaan apa adanya.

2.    Mengurangi permintaan pada periode permintaan puncak.

3.    Meningkatkan permintaan pada saat sepi.

4.    Menyimpan permintaan dengan system reservasi dan janji.

5.    Menerapkan system antrian.

6.    Mengembangkan jasa lain atau pelayanan komplementer.

b.    Melakukan penyesuaian permintaan dan kapasitas secara bersama-sama sehinga dapat tercapai kesesuaian anatara keduanya (manajemen penawaran), seperti:

1.    Menggunakan karyawan paruh waktu pada periode sibuk.

2.    Menyewa berbagai fasilitas dan peralatan tambahan dengan perusahaan lain.

3.    Selama periode sibuk, setiap karyawan hanya melaksanakan tugas-tugas pokok, sementara aktivitas yang bisa ditunda akan dilaksanakaan pada saat periode sepi.

4.    Meningkatkan partisipasi para pelanggan.

5.    Melakukan pelatihan silang kepada karayawan, sehingga karyawan memiliki keterampilan di bidang lain dan dapat saling membantu bila permintaan ramai.


referensi:

Ir. Agustina Shinta, M.P. 2011. Manajemen Pemasaran: Universitas Brawijaya.